Sabtu, 15 Oktober 2011

bertemu dengan ikhlas

Tercatatkan seorang akhwat dan seorang Ikhwan yang cukup dekat, menjalin ukhuwah islamiah dengan baik. Mereka terlihat seperti adik dan kakak yang akur. Sering terlihat belajar bersama dan saling memotivasi satu dengan yang lain. Saling membantu, peduli dan saling perhatian. Si ikhwan sangat dewasa, supel dan baik dan si akhwat punya sifat pemalu. Berawal dari sebuah pertemuan yang tak disadari, sampai akhirnya tahun demi tahun mereka terlihat semakin akrab. Mereka berjanji akan menjaga ukhuwah islamiah ini atas ridlo Allah. Banyak terpaan dalam hubungan mereka, namun mereka bisa atasi itu. Sampai pada akhirnya, si akhwat merasa bahwa si ikhwan tak lagi ada bersamanya. Dia merasa bahwa kini ikhwan telah menjadi sesosok ikhwan yang dikenal banyak orang. Jelas terlihat seperti itu, sepertinya ikhwan dengan sifatnya yang baik dan perhatian membuat dirinya begitu mudah dekat dengan orang. Itupun yang menjadikan si akhwat tidak begitu mempedulikan perubahan sikap si ikhwan padanya. Namun, hal seperti ini yang dulu bisa diselesaikan dengan cepat sekarang telah menjadi sebuah hal yang sulit dibahas oleh si akhwat. Si akhwat tak mampu membicarakan rengganggnya hubungan mereka pada si ikhwan sebab tak ada lagi waktu mereka bisa bicara. Si akhwat sempat berfikir negative, namun si ikhwan berhasil meluruskannya kembali. Namun, yang menjadikan perih hatinya si akhwat adalah si ikhwan mampu mendengarkan keluh kesah orang lain sementara, tidak untuk si akhwat. Mungkin itu bukanlah keinginan si ikhwan tapi, si akhwat tak mengetahuinya. Lebih dari satu bulan si akhwat menyimpan semua rasa sedihnya, cerita gembiranya, tumpukan pertanyaan, tekanan yang sedang ia hadapi sebab tak ada lagi si ikhwan yang ada tuk mendengarkan ceritanya. Itu tersimpan rapat didalam hatinya sebab, Si akhwat bukanlah tipe perempuan yang mudah berbagi cerita dengan orang. Kini, ikhwan si tempat ceritanya, ikhwan yang ia anggap sebagai kakaknya banyak dibutuhkan orang. Mungkin si ikhwan tak akan sadar akan hal ini. Karena, si akhwat tak mampu tuk mengatakan bahwa dia membutuhkannya. Ketika suatu masalah menerpa kehidupan si akhwat, ia hanya mampu memendamnya sehingga tanpa sadar, ia jatuh sakit dan terpungkur. Suatu malam, si akhwat diingatkan bahwa satu-satunya tempat mengadu adalah kepada ALLAH SWT. Ia pun berkeluh kesah pada sang Khalik. Ia seperti tersadar bahwa ia telah lupa sesungguhnya ia masih mempunyai Allah yang selalu bersama hamba-Nya. Keesokan harinya, hatinya menjadi lebih baik. Ia seakan tak memiliki rasa kesal, rasa sedih lagi. Bahkan untuk kali pertamanya, si akhwat ikhlas melihat si ikhwan mengucapkan kata sayang untuk akhwat lain, dihadapannya. Subhanalloh, perasaan yang begitu si akhwat syukuri. Karena ia tidak lagi mau mendzolimi dirinya. Si akhwat sadar, bahwa si ikhwan yang dulu bersamanya kini berada ditengah banyaknya orang. Dia perlu tetap berdiri disana dengan baik. Si akhwat tidak akan lagi membuat si ikhwan menjelaskan hal-hal itu. Karena si akhwat tahu bahwa si ikhwan pun akan lelah jika si akhwat lagi lagi bertingkah kekanakan. Si akhwat yakin jika Allah meridloi, maka Allah lah yang akan menjaga ukhuwah tersebut. Ia tak pernah menyangka, sakit yang dulu ia rasakan kini tlah hilang. Si akhwat tak ingin lagi bersifat egois. Karena bagaimanapun si ikhwan bukanlah seseorang yang bersamanya. Namun, si akhwat tetap akan menjaga hubungan yang baik dengan si ikhwan. Andaikan si ikhwan mengetahui bahwa si akhwat sangat menghormati dan menghargainya dengan semua yang ada disekelilingnya. Ia tidak berniat melepas hanya ingin ikhlas agar tetap bisa melihat si ikhwan dan baginya, ia telah menemukan keikhlasan dalam kehidupannya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

L O V E U M O M

L O V E U M O M
Aku, papa, ade sangat sayang mama