Masa SMA akan menjadi sebuah
kenangan terindah dimasa depan. Saat kita pergi meninggalkan masa sma, akan
banyak hal yang dirindukan. Seragam, sekolah, aturan, guru apalagi yang bernama
teman. Teman? Mungkin beberapa dari mahasiswi nantinya akan merindukan teman.
Tapi, saya nggak pernah tahu apakah saya akan merindukan mereka yang disebut
teman? Hal ini bukan karena saya sombong tapi saya merasa tidaklah ada arti
teman yang sesungguhnya. Mungkin banyak yang akan menilai berlebihan jika
sampai kita tidak punya teman. Tapi bukankah teman adalah mereka yang dekat
dengan kita?yang mengerti kita? Mungkin itu bukanlah teman. Kenapa tidak pernah
terfikir bahwa kadang teman adalah musuh terbesar dalam hidup kita. Apakah
mereka pernah memarahi kita?apakah kita pernah merasa sedih saat bersama mereka
yang bernama teman? PASTI TIDAK!!! Mereka selalu terlihat manis didepan kita,
mereka selalu membuat kita bahagia, tertawa dan melupakan hal sedih yang kita
alami. Mereka itu hanya tipuan bagi saya! Saat saya sedih, mereka buat saya
tertawa padahal saya akan 1000x lebih baik saat sedih. Mereka bisa membuat
prioritas pergi dan main dengan mereka menjadi prioritas utama bagi saya.
Mereka membuat saya berbohong dan mereka menyajikan para musuh untuk saya. Karena
itu, mereka bisa menjadi musuh dalam hidup kita. Tidak perlu munafik! Kadang
kala, saya sendiri suka membicarakan hal buruk tentang teman saya, biarpun
dalam kondisi bercanda. Tanpa sadar, saya perlu tahu bahwa ada kalanya nanti
saya lah yang akan dijadikan bahan pembicaraan orang dan… saat itu terjadi,
saya akan menjadi seseorang yang tak memiliki teman. Saya akan bungkam, tidak
akan bicara! Kenapa? Karena hati ini sudah begitu sakit. Kenapa mereka selalu
terlihat manis bagaikan coklat silverqueen? Mengapa saat bersama mereka saya
selalu merasa asik seperti diDunia Fantasi? Saya bukanlah seseorang yang pandai
bergaul, saya masih hidup dibalik sebuah topeng. Saya hanya memikirkan
bagaimana supaya bisa mendekati si A si B dan si si si yang lain. Tak pernah
terfikir saat salah satu dari mereka pergi karena buruknya sikap saya, maka itu
akan menjadi tak bersisa! Apa yang saya sesali? Bukanlah pertemanan ini! Tapi
saya menyesal pernah lebih mengutamakan teman daripada keluarga saya! Saya menyesal!
Itulah hal yang paling saya takutkan saat memiliki teman. Saat ini, harapan
saya bisa melanjutkan hidup bukan lagi dengan topeng dan bukan lagi dengan
angan-angan populer, keren dengan cara punya teman banyak. Karena saya belum
bisa berbagi dengan teman. Cukup bagi saya sebuah kenangan mengenal mereka yang
dinamakan “TEMAN”
Tertanda
saya
Tidak ada komentar:
Posting Komentar