Sabtu, 10 September 2011

Mereka yang bernama “Teman”


            Masa SMA akan menjadi sebuah kenangan terindah dimasa depan. Saat kita pergi meninggalkan masa sma, akan banyak hal yang dirindukan. Seragam, sekolah, aturan, guru apalagi yang bernama teman. Teman? Mungkin beberapa dari mahasiswi nantinya akan merindukan teman. Tapi, saya nggak pernah tahu apakah saya akan merindukan mereka yang disebut teman? Hal ini bukan karena saya sombong tapi saya merasa tidaklah ada arti teman yang sesungguhnya. Mungkin banyak yang akan menilai berlebihan jika sampai kita tidak punya teman. Tapi bukankah teman adalah mereka yang dekat dengan kita?yang mengerti kita? Mungkin itu bukanlah teman. Kenapa tidak pernah terfikir bahwa kadang teman adalah musuh terbesar dalam hidup kita. Apakah mereka pernah memarahi kita?apakah kita pernah merasa sedih saat bersama mereka yang bernama teman? PASTI TIDAK!!! Mereka selalu terlihat manis didepan kita, mereka selalu membuat kita bahagia, tertawa dan melupakan hal sedih yang kita alami. Mereka itu hanya tipuan bagi saya! Saat saya sedih, mereka buat saya tertawa padahal saya akan 1000x lebih baik saat sedih. Mereka bisa membuat prioritas pergi dan main dengan mereka menjadi prioritas utama bagi saya. Mereka membuat saya berbohong dan mereka menyajikan para musuh untuk saya. Karena itu, mereka bisa menjadi musuh dalam hidup kita. Tidak perlu munafik! Kadang kala, saya sendiri suka membicarakan hal buruk tentang teman saya, biarpun dalam kondisi bercanda. Tanpa sadar, saya perlu tahu bahwa ada kalanya nanti saya lah yang akan dijadikan bahan pembicaraan orang dan… saat itu terjadi, saya akan menjadi seseorang yang tak memiliki teman. Saya akan bungkam, tidak akan bicara! Kenapa? Karena hati ini sudah begitu sakit. Kenapa mereka selalu terlihat manis bagaikan coklat silverqueen? Mengapa saat bersama mereka saya selalu merasa asik seperti diDunia Fantasi? Saya bukanlah seseorang yang pandai bergaul, saya masih hidup dibalik sebuah topeng. Saya hanya memikirkan bagaimana supaya bisa mendekati si A si B dan si si si yang lain. Tak pernah terfikir saat salah satu dari mereka pergi karena buruknya sikap saya, maka itu akan menjadi tak bersisa! Apa yang saya sesali? Bukanlah pertemanan ini! Tapi saya menyesal pernah lebih mengutamakan teman daripada keluarga saya! Saya menyesal! Itulah hal yang paling saya takutkan saat memiliki teman. Saat ini, harapan saya bisa melanjutkan hidup bukan lagi dengan topeng dan bukan lagi dengan angan-angan populer, keren dengan cara punya teman banyak. Karena saya belum bisa berbagi dengan teman. Cukup bagi saya sebuah kenangan mengenal mereka yang dinamakan “TEMAN”

Tertanda
saya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

L O V E U M O M

L O V E U M O M
Aku, papa, ade sangat sayang mama