Sabtu, 15 Oktober 2011

bertemu dengan ikhlas

Tercatatkan seorang akhwat dan seorang Ikhwan yang cukup dekat, menjalin ukhuwah islamiah dengan baik. Mereka terlihat seperti adik dan kakak yang akur. Sering terlihat belajar bersama dan saling memotivasi satu dengan yang lain. Saling membantu, peduli dan saling perhatian. Si ikhwan sangat dewasa, supel dan baik dan si akhwat punya sifat pemalu. Berawal dari sebuah pertemuan yang tak disadari, sampai akhirnya tahun demi tahun mereka terlihat semakin akrab. Mereka berjanji akan menjaga ukhuwah islamiah ini atas ridlo Allah. Banyak terpaan dalam hubungan mereka, namun mereka bisa atasi itu. Sampai pada akhirnya, si akhwat merasa bahwa si ikhwan tak lagi ada bersamanya. Dia merasa bahwa kini ikhwan telah menjadi sesosok ikhwan yang dikenal banyak orang. Jelas terlihat seperti itu, sepertinya ikhwan dengan sifatnya yang baik dan perhatian membuat dirinya begitu mudah dekat dengan orang. Itupun yang menjadikan si akhwat tidak begitu mempedulikan perubahan sikap si ikhwan padanya. Namun, hal seperti ini yang dulu bisa diselesaikan dengan cepat sekarang telah menjadi sebuah hal yang sulit dibahas oleh si akhwat. Si akhwat tak mampu membicarakan rengganggnya hubungan mereka pada si ikhwan sebab tak ada lagi waktu mereka bisa bicara. Si akhwat sempat berfikir negative, namun si ikhwan berhasil meluruskannya kembali. Namun, yang menjadikan perih hatinya si akhwat adalah si ikhwan mampu mendengarkan keluh kesah orang lain sementara, tidak untuk si akhwat. Mungkin itu bukanlah keinginan si ikhwan tapi, si akhwat tak mengetahuinya. Lebih dari satu bulan si akhwat menyimpan semua rasa sedihnya, cerita gembiranya, tumpukan pertanyaan, tekanan yang sedang ia hadapi sebab tak ada lagi si ikhwan yang ada tuk mendengarkan ceritanya. Itu tersimpan rapat didalam hatinya sebab, Si akhwat bukanlah tipe perempuan yang mudah berbagi cerita dengan orang. Kini, ikhwan si tempat ceritanya, ikhwan yang ia anggap sebagai kakaknya banyak dibutuhkan orang. Mungkin si ikhwan tak akan sadar akan hal ini. Karena, si akhwat tak mampu tuk mengatakan bahwa dia membutuhkannya. Ketika suatu masalah menerpa kehidupan si akhwat, ia hanya mampu memendamnya sehingga tanpa sadar, ia jatuh sakit dan terpungkur. Suatu malam, si akhwat diingatkan bahwa satu-satunya tempat mengadu adalah kepada ALLAH SWT. Ia pun berkeluh kesah pada sang Khalik. Ia seperti tersadar bahwa ia telah lupa sesungguhnya ia masih mempunyai Allah yang selalu bersama hamba-Nya. Keesokan harinya, hatinya menjadi lebih baik. Ia seakan tak memiliki rasa kesal, rasa sedih lagi. Bahkan untuk kali pertamanya, si akhwat ikhlas melihat si ikhwan mengucapkan kata sayang untuk akhwat lain, dihadapannya. Subhanalloh, perasaan yang begitu si akhwat syukuri. Karena ia tidak lagi mau mendzolimi dirinya. Si akhwat sadar, bahwa si ikhwan yang dulu bersamanya kini berada ditengah banyaknya orang. Dia perlu tetap berdiri disana dengan baik. Si akhwat tidak akan lagi membuat si ikhwan menjelaskan hal-hal itu. Karena si akhwat tahu bahwa si ikhwan pun akan lelah jika si akhwat lagi lagi bertingkah kekanakan. Si akhwat yakin jika Allah meridloi, maka Allah lah yang akan menjaga ukhuwah tersebut. Ia tak pernah menyangka, sakit yang dulu ia rasakan kini tlah hilang. Si akhwat tak ingin lagi bersifat egois. Karena bagaimanapun si ikhwan bukanlah seseorang yang bersamanya. Namun, si akhwat tetap akan menjaga hubungan yang baik dengan si ikhwan. Andaikan si ikhwan mengetahui bahwa si akhwat sangat menghormati dan menghargainya dengan semua yang ada disekelilingnya. Ia tidak berniat melepas hanya ingin ikhlas agar tetap bisa melihat si ikhwan dan baginya, ia telah menemukan keikhlasan dalam kehidupannya.

Sabtu, 10 September 2011

Mereka yang bernama “Teman”


            Masa SMA akan menjadi sebuah kenangan terindah dimasa depan. Saat kita pergi meninggalkan masa sma, akan banyak hal yang dirindukan. Seragam, sekolah, aturan, guru apalagi yang bernama teman. Teman? Mungkin beberapa dari mahasiswi nantinya akan merindukan teman. Tapi, saya nggak pernah tahu apakah saya akan merindukan mereka yang disebut teman? Hal ini bukan karena saya sombong tapi saya merasa tidaklah ada arti teman yang sesungguhnya. Mungkin banyak yang akan menilai berlebihan jika sampai kita tidak punya teman. Tapi bukankah teman adalah mereka yang dekat dengan kita?yang mengerti kita? Mungkin itu bukanlah teman. Kenapa tidak pernah terfikir bahwa kadang teman adalah musuh terbesar dalam hidup kita. Apakah mereka pernah memarahi kita?apakah kita pernah merasa sedih saat bersama mereka yang bernama teman? PASTI TIDAK!!! Mereka selalu terlihat manis didepan kita, mereka selalu membuat kita bahagia, tertawa dan melupakan hal sedih yang kita alami. Mereka itu hanya tipuan bagi saya! Saat saya sedih, mereka buat saya tertawa padahal saya akan 1000x lebih baik saat sedih. Mereka bisa membuat prioritas pergi dan main dengan mereka menjadi prioritas utama bagi saya. Mereka membuat saya berbohong dan mereka menyajikan para musuh untuk saya. Karena itu, mereka bisa menjadi musuh dalam hidup kita. Tidak perlu munafik! Kadang kala, saya sendiri suka membicarakan hal buruk tentang teman saya, biarpun dalam kondisi bercanda. Tanpa sadar, saya perlu tahu bahwa ada kalanya nanti saya lah yang akan dijadikan bahan pembicaraan orang dan… saat itu terjadi, saya akan menjadi seseorang yang tak memiliki teman. Saya akan bungkam, tidak akan bicara! Kenapa? Karena hati ini sudah begitu sakit. Kenapa mereka selalu terlihat manis bagaikan coklat silverqueen? Mengapa saat bersama mereka saya selalu merasa asik seperti diDunia Fantasi? Saya bukanlah seseorang yang pandai bergaul, saya masih hidup dibalik sebuah topeng. Saya hanya memikirkan bagaimana supaya bisa mendekati si A si B dan si si si yang lain. Tak pernah terfikir saat salah satu dari mereka pergi karena buruknya sikap saya, maka itu akan menjadi tak bersisa! Apa yang saya sesali? Bukanlah pertemanan ini! Tapi saya menyesal pernah lebih mengutamakan teman daripada keluarga saya! Saya menyesal! Itulah hal yang paling saya takutkan saat memiliki teman. Saat ini, harapan saya bisa melanjutkan hidup bukan lagi dengan topeng dan bukan lagi dengan angan-angan populer, keren dengan cara punya teman banyak. Karena saya belum bisa berbagi dengan teman. Cukup bagi saya sebuah kenangan mengenal mereka yang dinamakan “TEMAN”

Tertanda
saya

Senin, 30 Mei 2011

Aku dan My best*chairmate
Pendahuluan : sebenernya…. Aku terpaksa buat tulisan ini!
Kisah soulmate (wueeek :p) bernama Rininta Aviantari Ainun dan Fedina Defita Wardani.
Entah gimana nulisnya, tulisan ini just for fun aja.
Ada beberapa lagu yang berhasil kita(?) aransemen
“Menarilah dan terus tertawa… walau teman sebangku terluka.
Bersyukurlah pada yang Kuasa… teman kita terlukaaaaa….. SELAMANYA”
(lirik lagu ini cukup ekstrim untuk dipublikasikan. Tapi, lagi(lagi) ini hanya bercanda semata. Lagu ini ditemukan saat pelajaran apa, lupa)
“Walaupun bapak marah.. Kita tetap gembira…”
(dengan nada lagu Hachi anak sebatang kara, lagu ini ditemukan waktu lagi dihukum pelajaran matematika diluar dan gaboleh masuk)
Kejadian lucu (buat kita, entah buat yang lain mah)
Saat pelajaran Bahasa Jepang…
Pokok bahasan : sifat dan gambaran fisik
F : Rininta, ko engga ada bahasa Jepangnya jelek sih?
R : Gatau fe
F : Apa karena enggak ada fotonya ya (selalu menggunakan gambar/foto)?
Fedina masih terdiam dan tiba-tiba Rininta tersenyum licik….. dan tersambung dengan Fedina dan secara bersamaan…..
F dan R : Pake foto lu aja ya padahal (ngomong gajelas kebanting gabisa nahan ketawa)
Saat libur Ujian Nasional…
Dirumah masing-masing…
(Aku dan Fedina smsan dan gak pending. Sementara ke nomor lain pending. Sungguh mengertinya operator akan persahabatan kita *:p*)
Banyak kisah romantis yang kita alami berdua (ngakak nulisnya). Banyak hal yang kita lewati berdua (saja). Banyak kejadian lucu dengan awalan saling ejek, saling menyiksa tapi buat kita selalu berdua *muka terpaksa(pasrah)*
Tertanda
Kita
(Rininta dan Fedina yang berantem terus)

Jumat, 20 Mei 2011

20 Mei 2011

Hari ini papa udah dirumah lebih awal, muka mama juga udah enggak secuek tadi malem. Pagi ini, tari sedikit lebih bisa menghela nafas biarpun hati dan otak masih kalut enggak karuan. Berangkat sekolah pun enggak kesiangan.

Hari ini berniat ingiiiin piiisaaaan cerita tentang kemarin. Hal kemarin kaya bikin keinginan tari tertutup rapat. Hari ini pelajaran pertama Fisika, untuk kedua kalinya duduk dikursi paling depan. Materi nyambung, soal menantang, otak fresh, sedikit buat tari lebih baik bahkan lupa sama masalah kemarin. Waktunya berganti jam pelajaran, yaitu mtk. Enggak sabar ingin cepet nanya materi turunan trigonometri yang bener-bener buta gara-gara pertemuan kemarin tari dihukum diluar dan pas pinjem catetan enggak ada yang ngerti dan enggak ada yang ngejelasin. Akhirnya, Tari sama awan nyari bapak keluar dan eits bapaknya sedang otw. Bergegas duduk manis dikursi, daaaaaaaaaaaaaaaaaaaaan “Keluarkan kertas selembar!” Ya Allah, ohmege! Apaan banget?! Tari kira bapak bercanda. Tapi itu cuma harapan tari! Ulangan empat soal dengan tiga soal turunan trigonometri. Astaghfirulloh! Nuhuuuun. Sekian menit dihabiskan tari buat ngehibur diri biar enggak menitikkan air mata. Ketawa, bercanda sama fedina dan blablablanya! SHIT tapi itu enggak ampuh! Enggak mempan!! Hati semakin gundah gulana layaknya Tria Changcuters dalam lagunya Hijrah ke London. Cuma bisa jawab satu soal. Ketika bapak lewat depan meja, tari bilang “ih bapak mah *dengan muka jelek sejelek-jeleknya*” daaaaan bapak cuma senyum, melewati meja dan meninggalkan ratusan bahkan ribuan rasa kesal. Balik ke soal! Ya Allah, apalah ini -.-“ turunan ? Turunan + ? Turunan ???? Ingin nangis!!! Ingin teriak!! Dasar teori enggak pegang!! Konsep Nol besar!! Alhamdulillah pisan ulangannya ngingetin tari sama my first math daily test!! Kalaulah boleh dan fair, enggak akan tari ngumpulin itu kertas! Kalaulah tari tau, enggak akan tari sekolah!! Kalaulah dan kalaulah terus! “Ya.. Kumpulkan! *dengan ekspresi muka santai*” saat harus dikumpulkan, masih bisa tersenyum tapi gatau kenapa ketika ngambil handphone yang selama beberapa jam ini lagi disembunyiin sama anak-anak cowok, air mata ngalir tanpa persiapan. Tak bisa berkata (baca: kelut)!

Tindakan awal, langsung ketik pesan dan kirim ke mama. Lamaaaaaaaa banget mama baru bales, dan balesannya bikin hujan makin deraaaaaaas. Ipa dua enggak ada yang nyangka, sementara tari…. Udah nyangka! Karena tari pernah bilang, tari akan nangis ketika berhadapan sama nilai jelek dan guru!! Sadar atau enggak, tari pernah berucap itu! Hari itu cerita semua kesedihan, kekesalan diecritain ke mama :’( dan harus terpotong pelajaran biologi. Akhir ucapan mama “he..he Sabar atuh” Lucu, bingung tapi menenangkan.

Udah sedikit tenang, bapak balik lagi dan ngasih kertas ulangan! 25!! Angka pematah semangat!! Teringat 15!! Mama bilang, ambil sisi positifnya, daaaaaaan i take it! Terima kasih buat tari mengingat lagi 50 dan 15!! Senang bercampur airmata. Ini sebuah peringatan dari Allah buat tari! Tari gaboleh lupa sama 15!! Harus selalu inget dimana ketika tari tak tampak sebagai murid. Emosi? Pasti! Sedih? Apalagi! Tapi enggak berguna! 25 ya tetap 25!! Hadiah terindah akhir pekan ini! Takkan terlupa! Selalu terkenang!

Hari itu juga, tari udah bikin Gladys kesel karena ulah tari. Hari itu pulang awal, daaaaan akhirnya Gladys ngajak tukeran nomor handphone daaaaaan sampai rumah, tari dapat kabar enggak lolos osn. Ya Allah, kenapa ini semua datang bersamaan saat tari enggak punya seorangpun dibelakang tari. Berasa galau pisan. Tanpa teman berbagi, tari sedih sendiri. Akhirnya, terpendam lagi cerita baru saat cerita lama belum dikeluarkan :’( Lengkapnyaaaaa hari ini. Tetap syukuri tari! Kamu mungkin ditakdirin menghadapi cobaan ini tanpa dia, seseorang yang mau menolong. Tari gaboleh benci hari ini! Tapi kalaulah harus jujur, Tari enggak ingin bertemu hari ini. Saat pulang, rumah udah rapid an ternyata mama dan anak-anak 12 ipa 5 nya mau makan-makan dirumah. Subhanallah, jadi keinget ipa dua :’( acaranya berlangsung rame dan sepertinya berkesan untuk mama.

Habis maghrib, tari langsung berangkat ngaji. Minimal tari berharap bisa mengurangi rasa kesal dan bikin hati tenang. Biarpun hari ini ada tes, tapi tetep harus semangat daaaaaaaaaaan hasil tesnya dapet 100. Alhamdulillah, ada kabar baik (banget) untuk minggu ini. Tari harap mama papa seneng J Hari ini penuh keluh kesah yang tari alami. Biarpun tari enggak dewasa menghadapinya, tapi tari punya mama yang ingetin tari. Terlebih Allah yang selalu peduli sama tari di dua puluh mei 2011 ini.

Minggu, 17 April 2011

Weekend to Kampung China

“Teh! Cepet beberes, mau pergi!” teriak si mama. *minimize google chrome* jalan ke dapur, dan ambil sarapan (?) selesai sarapan, baru deh beberes rumah. Ya Allah Ya Rab, rumah ini ko kaya habis ada hajatan tujuh hari tujuh malem ya (baca: Lebay). Rencana pergi jam 8.00 mudur sedikit jadi jam 09.30 (sedikit?). Langsung deh dengan segenap orang yang cukup banyak ini, caw ke Bogor tepatnya Cibubur. Alhamdulillah jalan tol sangat amat lancar. Well, mama bilang tujuan utama adalah Kampung Cina.

Aku : Kampung Cina tuh tempat apa ya?

Mama : Barang-barang, mirip2 souvenir Cina

Aku : Lebih tepatnya tempat shoping, ya?

Mama : *mengangguk*

Aku : -.-“

Kebayanglah (terniang-niang) ini bakal jadi harinya si mama. Jelas! Sesampainya di Kota Wisata, langsung terpanah Kampung Cina. Daaaan, emang bagus sih, banyak souvenir ala Cina-cina gitu. Tapi satu pertanyaan dikepala

“Ko, hampir setiap toko/kios dikampung Cina jual barang yang sama???”

dan satu lagi temennya pertanyaan utama

”Ko, masih aja si mama datengin itu toko satu-satu -.-“ ?”

Dan lebih mengejutkannya, keponakan aku yang umurnya tiga tahun betah banget shoping bareng mama. Tanda-tanda mama wannabe ini mah. Sempet capek juga sih liatin kiri-kanan tukang jualan. Untung sedikit legaaa, soalnya sekalian cuci mata juga. Selesai dibuat pegel keliling kampung Cina, langsung refreshing kaki dengan naik Dragon Boat Night. Angin yang semriwing ditengah panasnya Cibubur membuat aku lumayan ngantuk.

Gak sampai disini, petualangan dilanjutkan ke Fantasi Island. Sebelum masuk, hati ini terus bertanya “ko ga keliatan histerianya ya?” gak lama angin menjawab “Ini Fantasi Island WOY!! Bukan Dunia Fantasi!!”, “oh salah ya? Maaf bang angin” , “-.-“ Banyak banget tempat yang paaaaaaaaaaaas sekali buat foto disini. Daaaaaaaaaan menggembirakannya! Disini panaaaaaaaasss tak tertahankan !!! Subhanallah pisan. Gak jauh mata memandang, terlihat kerumunan orang di area bermain. Udah seneng nih, dan emang bener!! Semua permainan tersedia beserta tulisan INSERT COIN, -.-“. Sabar deh. Sesiangan nunggu adik dan tiga keponakan main sepuasnya sampe mereka capek dan berenti ngedatangin loket coinnya. Papa juga udah mulai nyuruh cepet karena kita mesti caw pulang dan nganter sepupuku dan anak2nya. Arrived at home (akhirnya). Hari ini paling asyiknya ada waktu jalan-jalan keluarga (terutama papa). Tysm everybody. Sekedar info aja, agenda hari ini : Belanja (oke) Main (oke) Seneng (oke) Makan (oke) Panas (oke) Foto (oke) Share cerita (oke deh!)

Jumat, 01 April 2011

We all said " Happy Birthday " !


“Happy Birthday bapak.. Happy birthday bapak.. Happy birthday, happy birthday, happy birthday bapak…” serempak ipadua melantunkan lagu yang begitu familiar terdengar. Kue dan Balon bertuliskan HAPPY BIRTHDAY MR SIDIK dihadapkan didepan muka wali kelas kita yang baru saja menyimpan wajah khawatirnya sebelum mengetahui kalau fianti itu cuma pingsan pura-pura. Mungkin nggak terbayang muka bapak yang penuh kaget dan haru liat kelakuan anak-anaknya dan tentunya nggak terbayang muka ceria ipadua saat ngasih surprise buat bapak. Nggak kalah penting juga wajah anak ipadua menghela napas karena penderitaan dibawah terik matahari akhirnya berakhir juga(baca: lega).
***
Hari ini tanggal 29 maret 2011 memang bukan tepat ulang tahun wali kelas kami tersayang. Tapi, hari ini sangat bermakna buat anak ipadua dan tentunya Wali kelas kita Pak sidik. Entah harus mulai darimana cerita dan scenario haru hari ini dimulai. Bisa dibilang sudah direncanakan sejak lamaaa seiiikali (baca: lebay). Hari senin (28/03/2011), aku diminta ipadua bilang ke Bu dyanti tuk mau menaruh campur tangannya dalam rangka ngerjain Bapak. Awalnya, ibu belum pastiin -.- tapi terus ibu ngasih kepastian deal setuju untuk ngerjain Bapak plus ngasih arahan ini itu untuk disampein ke Bapak daaaaaaaaaan Bapak pun nanya di telpon “ada apa ipadua sama Bu Dyanti?” kaget, bingung, lucu bercampurlah dan nggak tahu harus bilang apa. Tapi sesuai arahan aku bilang bla-bla-bla dan blanyaaa, ini itu sesuai yang diarahin ibu. Segeralah aku sms Uwi, Pr, Alin, Gladys, Bimo, Fitria, Dewim buat jaga-jaga Bapak nanya ke mereka dan memang ternyata bener. Waktu disekolah Alin dan Dewim diajak Bapak ngobrol. Untunglah udah siap siaga *fiuuuh.
***
Cerdasnya ipadua, buat bikin makin alami scenario ini, anak-anak cowok (kecuali agung) pada kabur dan entah tidak terdeteksi keberadaannya (musang bahagia pisan). Alin diminta marah-marah dan ngomongin masalah ke Bu Dyanti (yang pura-pura) dan dikarenakan Ibu nggak masuk ke kelas karena sakit kita harus berakting lebih untuk ngejailin bapak. Alin berhasil nangis dan bilang ke Bapak kalo udah capek ngurusin ipadua yang susah diatur. CONGRATS Alin yang bikin bapak percaya! Sementara itu, dibalik mushola (serasa layar) ada Dini, Gladys, Uwi dan Arum yang nyiapin kue dan balonnya. Langkah selanjutnya menuju kantor aaaaaaaaaand ACTION!
***
Tapi, keduluan bapak masuk kelas. Dikelas bapak ngomomg ini itu sana sini apa apa dan apa yang padahal makin bikin kita ngerasa “…our mission closed to complete..” jahatnyaaa kita. Sempet curiga juga bapak udah tahu rencana kita, habis senyum-senyum terus -.- Kita mutusin minta maaf ke kantor dan Bu Dyanti tak memaafkan kita (yaaa jelas… punya masalah aja nggak hehe) dan malah Bu Titin seperti punya “kesempatan” ngerjain anak ipadua. Kita disuruh lari lapangan (oh my..oh my-.-“)mana bapak nggak keluar-keluar dari kelas buat bantuin melepaskan kita dari penderitaan ini. Karena rencana ini gagal bikin bapak keluar dari kelas,kita loncat ke rencana dadakan (serasa sambel aja). Sebagian dari kita yang masih dilapangan memohon maaf (lagi) ke Bu dyanti dan (lagi-lagi)kita nggak dimaafin dan (ceritanya) kita dihukum suruh hormat bendera! Dan parahnya ini pun nggak membuat bapak keluar dengan alasan bukan wewenangnya. Jadi curiga malah anak ipadua yang dikerjain Bapak -.-“
***
*teneneneng* seakan dapet pencerahan, fianti pura-pura pingsan dan u yeaaaaaaaaaaaah THIS IS OUR WAY!! Hal yang bikin bapak (AKHIRNYA) mau keluar kelas. Panik dan Khawatir tersirat jelas di muka bapak. Semakin dekat-dekat menuju Fianti dan semakin dekat-dekat balon dan kuenya ke lapangan dan Fianti terbangun daaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaan “Happy Birthday bapak.. Happy birthday bapak.. Happy birthday, happy birthday, happy birthday bapak…”
***
moment selanjutnya tiup lilin dan foto-foto J Harunyaaaaaaaaaaa :’(. Dikelas, Febi ngeluarin tulisan besar HAPPY BIRTHDAY untuk bapak. Kalau aku jadi Bapak sih, serasa jadi puteri sehari yang dapet kejutan bertubi-tubi tumpuk tumpuk J tapi nggak mungkinlah ya.. kan bapak bukan cewek masa jadi puteri -.- Kue dipotong dan dibagikan bapak sambil bercerita harunya scenario hari ini, bapak bilang “nanti mau diceritain ke umi dan hari ini akan terkenang” ooooo.. so sweetnya. Pa Barna juga dapet kue enak ini dan pastinya Bu dyanti nggak akan kelewat.
***
Karena otak anak ipadua jail semua, handphone bapak yang ketinggalan plus buku dan pulpennya pun disembunyiin dalam kotak kue dan ketika bapak kembali buat ngecek hp dengan sedikit panic kita ngasih kotak tersebut dan maksa bapak buka padahal bapak lagi sibuk nyari hpnya daaaaaaaan lagi-lagi-lagi-lagi Bapak senyum karena ulah jail ipadua, hehe. Maaf ya Pak J nggak ada maksud ko Cuma mumpung ada kesempatan aja, hehe. Segini aja kisah haru hari ini. Makasih banyak Ipadua, Makasih banyak Bu Dyanti dan pihak yang membantu dan tak lupa sekali lagi Happy birthday ya MR SIDIK J Wish you all the best
With Love
Sebelas ipadua (@exitSMANSA)

Senin, 20 Desember 2010

pertemanan dalam persaingan (?) masih bisa-kah ?

“Ting tong.. ting tong..” dering alarm jam dikamarku tepat menunjukkan jam 5 pagi. Dengan keadaan setengah sadar (arti:lulungu) aku bersiap solat dan sekolah. Jam 5.45 selesai semua kegiatan pagi dan siap di anter sekolah sama si ayah. Beberapa jam hari ini dilewati seperti biasa saat ujian semesteran. Mulai dari persiapan, berangkat, belajar bareng diangkot pagi, sampai pada inti hari ini yaitu ujian semester.

***

“Berapa nilai biologi, mat, sejarah ?” ucap riweuh salah satu temenku. “ga ngerti tuh, belum tau” balasku dingin penasaran. Ga lama, aku langsung ikutan riweuh ngeliat nilai. Udah liat hasilnya *Alhamdulillah (terucap dihati kecil ini)*. SMA ini adalah satu-satunya tempat yang berhasil ngerubah sikap aku yang jadi begitu nggak suka ketika harus bicara tentang nilai tapi sangat bukan berarti aku ga peduli atau merasa udah pinter *OH NO Banget!*. SMA ini tempat belajar banyak gimana caranya ngelewatin sesuatu yang biasanya dibikin pusing sama diri sendiri.

“Rose, gimana nilaimu?” Tanya penasaran Lady(temen sekelas saat ini).

“ lumayan, kamu?” balas penasaran

“aku juga lumayan”

“Alhamdulillah, yaa J

Aku dan Lady cukup dekat dari mulai kita ketemu di sma. Menurutku, Lady adalah cewe yang cerdas(banget), baik, ramah, asik diajak ngobrol, supple dan baik deh pokoknya. Tipe orang yang enjoyable tapi konsisten dan rasanya baru nemu orang kaya Lady. Ngejalanin persahabatan sama Lady bikin warna persahabatan aku nggak gitu-gitu aja yang nggak pernah bisa bener-bener ngerasa dimengerti dan…..

“Rose, dipanggil Bu Olive!” teriak sisil(orang yang aku kenal)

“iyaa, makasih” (dengan langsung menuju Bu Olive)

“Gimana hasil ujianmu, nak?” Tanya Bu Olive guru Inggrisku

“Alhamdulillah, lumayan tapi ya biasa aja ko bu” balasku

“Gimana nilainya Lady ?” lontaran pertanyaan selanjutnya dari bu Olive

“Bagus bu, selalu begitu J. Hebat ya ”

“Beda jauh nggak sama kamu, rose?”

“seperti biasalah, bu”

“semangat nak, dia itu survive di berbagai bidang”

“iya, makasih bu J

Teringat dulu, aku cerita ke bu Olive ketika ibu Tanya aku “siapa dikelasmu yang menonjol progress belajarnya?” dan langsung reflek otomatis aku jawab “Lady tentunya”, aku lihat banget kemampuan dia biarpun dia nggak pernah nunjukkin. Dan dari sejak itu bu Olive mulai sering bicarain Lady.

***

Usai ngobrol sama bu Olive, langsung pulang bareng Lady, Naysa, Fani. Kebetulan hari ini hari terakhir ujian semester. Dirumah, Ayah sama ibu nanya nilai-nilai hasil ujianku seminggu kebelakang dan dengan sejujurnya aku jawab dibumbui kalimatku “Nilai Lady lebih bagus seperti biasanya, How smart she is!”

“Lebih giat ya belajarmu, rose! Dia itu sainganmu” (dengan nada dan maksud memotivasiku) ucap ibu.

***

Hari ini sudah terbebas dari yang namanya SKS. Mulai melakukan kegiatan yang udah kangen untuk dikerjakan seperti online, ngotak-ngatik rumus permainan, menjajahi dunia mimpi dan yang serupanya. Keburukan sikapku setelah ujian di SMA ini adalah nggak terfikir hasil ujianku. Padahal, di inget-inget satu hari ini semua orang sangat peduli sama ini dan itu seputar nilai. There is something weird to me? Tanya-tanya dalam hati yang nggak pernah nemuin jawabannya dari orang lain dan mecoba mengirim rombongan pertanyaan ke hati apakah sekarang aku jadi orang yang cuek?ataukah ini karena gengsi, sombong atau sejenisnya? Apakah mulai ada perasaan “aku udah bisa” dan nggak mungkin nilai jelek? Dan pertanyaan yang butuh (sangat butuh) jawaban dari inti pertanyaan Apakah ini sesuatu yang bagus untuk perkembanganku?. Ya ALLAH, secara nggak sadar fikiran di otakku mulai terpenuhi kebingungan. Mulai kepikiran banyak banget hal-hal yang bikin pusing. TENG ! langsung keinget kata-kata ibu “Dia itu sainganmu” dan jelasnya juga langsung kepikiran Lady. Kenapa ibu bilang gitu ya? Apakah ini sebuah penilaian? Dan setelah diinget-inget, dua bulan kebelakang ini banyak banget tanggapan orang-orang yang meng-iyakan pernyataan si ibu hari ini. Ko, bisa aku nggak pernah bisa ngerasa seperti itu? Bahkan, apapun yang menjadi tugas sekolah selalu kami bagi berdua. Saling bantu antara aku dan Lady. Nggak pernah peduli hasilnya kalaupun harus dia yang lebih baik. Karena apa? Because she is my friend. Nice friend ! dan itu pun yang pernah Lady ucapkan ke aku. Nggak tau mengapa aku seneng nyeritain sesemuanya tentang Lady ke orang contohnya aja Ibu, Bu Olive, Naysa, Fani, dan yang lain. Nyeritain Lady bisa buat aku seneng (so weird). Tahu kenapa? Karena Lady, temen yang paling beda yang aku temuin di perjalanan yang udah enam belas tahun ini. Tapi, balik lagi ke ucapan ibu. Apakah iya orang juga menganggap seperti itu?

***

DRRRTT…DRRRTT (getar handphoneku)

Selamat ya, rose J (isi sms Lady pagi hari minggu)

Apa? (balasku singkat)

Excellent (singkatnya balasan sms)

Oh, iya makasih. You’re excellent too, friend (jawabku)

nggak sama kaya kamu tapi rose, yah L

syukuri,Dy. The most important is there are increasing things this timeJ (balesanku)

Iya, Thanks rose J (balasan terakhir Lady)

Sms ini begitu susah dimengerti, kenapa Lady tulis itu dan merasa sedih ? Apakah Lady merasakan sesuatu yang beda? Apakah sesuatu itu membuat Lady terganggu? Ya Allah, kenapa Lady seperti ini? Aku merasa Lady mulai menjaraki aku disisi persaingan yang orang bilang. Ini adalah hal yang nggak pernah aku ingin ! Apakah Lady berubah ? DRRRTT…DRRRTT (getar handphoneku.. lagi)

Aa tahu nilaimu J selamat ya my sist (sms kakakku Bian)

Dari ibu? Iya :D (balasku)

Yo ! temenmu Lady, gimana ?

Survive J

Mudah-mudahan bisa lebih bagus dari dia ya sist J (ketik-nya di sms)

What’ going on with my handphone? Rusak-kah ? ko is isms dari orang gitu semua ? Demam apa yang muncul setelah ujian ini ?

***

Senin pagi, seperti biasa pergi ke sekolah. “Yes, asyik !” teriak Lady melihat nilai Biologi-nya. “Keren banget Dy nilai kamu! Congrat ya J”, “ Iya, ini usahaku sendiri” balas Lady. Muncullah beberapa kejutan dari tiap guru berisi angka-angka yang nggak pernah aku ngerti kenapa aku selalu penasaran nungguin angka itu keluar dan bertanya ke Lady

“Apakah nilai ujian itu segalanya?”,

“Nggak untukku, iya sih kenapa semua repot ?” (sambil menyantap mie bersamaku)

Anehnya, kenapa aku harus bilang gitu ke Lady ? Astaghfirullah, ini sebuah perasaan bangga sama diriku. Ya Allah, ini salah. Sesuatu yang Lady juga nggak repotkan tapi ada siratan perasaan ketika melihat hasil ujian yang begitu WAW kalo dia itu sangat seneng!!

“Rose!” panggil bu Olive

“iya,bu. Ada apa?” jawabku

“lihat nilaimu”

“Alhamdulillah (sambil menatap sebuah kertas dan secara reflek ibu jari ini menunjuk sebuah nama diatasku), bagus ya bu nilainya?”

“iya, ko kalah dengannya?”

“dia selalu bagus, bu”

“kamu juga ko, nak. Biarpun dia unggul tapi, kamu juga survive”

“mudah-mudahan ya bu”

***

Dua hari berlalu dengan celotehan, aduan, omongan, opini orang-orang tentang hasil ujian. Sementara aku, entahlah nggak jelas. VERY DISLIKE THIS SITUATION ! kenapa sih, ngebahas lagi dan lagi hasil ujian. Toh, itu semua udah kita tahu waktu ngerjain dan kita juga bisa menduga. Terus apalagi ? Pertanyaan paling nggak berguna yang aku punya. Seperti halnya yang lain. Lady mulai terus dan terus nanya dan ngomongin nilai. Ko bisa? Kemana kalimat yang pernah dia bilang ? Kemana perginya temen sepikiranku itu? Aku kaget banget waktu Lady mencoba merubah nilainya yang padahal udah bagus, menyesali kenapa hanya segitu? . Ingin banget aku bilang Kenapa nggak mencoba syukuri dan lewati apa yang udah kita usahain, mungkin itu lebih baik. Tapi, sayangnya aku nggak pernah berani bilang itu. Satu opini dan saran untuk Lady adalah harus banyak lihat sikap cowo-cowo deh (bukan berarti ngeceng). Banyak hal yang aku dapet dari kaum adam itu. Mereka bisa ko cuek-cuek nanggapi hal yang terjadi dan nggak ada terusannya lagi. Apa sih yang kurang sama Lady? Nilainya aja selalu ok banget dan waw dan banyak yang akui itu.

Hal yang mulai aku pikirin adalah Lady mulai terhasut orang untuk mulai suka membandingkan nilainya. Aku tahu, hasil ujian itu bisa buat perasaan bangga. Tapi, apa harus kita ungkit ? Apa nggak bisa hanya kita yang tahu? Kenapa orang-orang dikelas dan disekelilingku mulai suka membandingkan aku dan Lady. Mulailah juga semua orang dan sekelilingku ngomongin keunggulan Lady, Lady dan Lady. Sampai ada satu hal yang mau aku bilang di mikrofon, mau aku teriakin ke orang-orang, “ AKU TAKUT !! AKU TAKUT !!” (seriusannya juga aku bener-bener takut! Pertama, ketika aku unggul darinya aku merasa bangga. Astaghfirullah, sebuah pengkhianatan kekuasaan karena seharusnya manusia tau bahwa sesuatu kelebihannya bukanlah untuk dibicarakan. Kedua, aku nggak ingin ada rasa dia adalah sainganku. Karena semakin sering orang banggain dia didepan aku akan membuat aku terobsesi mengalahkan dia. Sebenarnya itu bagus sebagai motivasi tapi entah kenapa aku sama sekali nggak suka dengan itu. Ketiga, Karena dia adalah TEMANku! SO? Banyak orang bilang: Kenapa persaingan dengan teman? Itu kan bagus. Buat aku, FINE aja. Bisa aja tapi, apa pertemanannya masih consist ? berdasar pengalaman, consist-nya hanya sebatas saling kenal aja dan pertemanannya entah kemana. Dari dulu hal yang paling nggak mau aku lakuin adalah menghilangkan satu aja temen, nggak peduli orang nggak liat aku karena si temenku lebih hebat atau apalah serupanya. Jujur, sekarang ini baru Lady yang bisa buat aku kaya gini. Cemburu (banget)!. Dari dulu aku terbiasa dengan sikap nerima aja. Aku sangat mengakui banyak hal lebih padanya tapi, sesuatu yang datangnya berlebihan mulai terasa nggak nyaman untukku. Mulai ibuku yang suka ngomongin dia, banggain dia. Itu buat aku cemburu. Tapi, disisi lain ini ulahku sendiri kok. Toh, aku yang awalnya cerita semuamuanya tentang dia dan aku seneng ngelakuinnya. Dengan niatan awalku adalah ingin bisa nikmatin hari-hari disekolah dengan orang yang srek dan cocok sama sikapku, ingin orang tau kalau dia itu temanku. Kalau ibuku tau, orang-orang tau mungkin satu hal yang sama yang akan dilakukan adalah membenci sikapku ini). Jadi, Apa yang harus aku lakuin ?

***

Akhirnya kisah ini nggak pernah bisa aku selesaikan. In reality, I hope Rose will find mean who’s and what for the rival ? What must she does when she feel very jealous with her friend ? Whether there is something weird with that feel ?

18 desember 2010

ordinary
rinintaaviantari

L O V E U M O M

L O V E U M O M
Aku, papa, ade sangat sayang mama