Tercatatkan seorang akhwat dan seorang Ikhwan yang cukup
dekat, menjalin ukhuwah islamiah dengan baik. Mereka terlihat seperti adik dan
kakak yang akur. Sering terlihat belajar bersama dan saling memotivasi satu
dengan yang lain. Saling membantu, peduli dan saling perhatian. Si ikhwan
sangat dewasa, supel dan baik dan si akhwat punya sifat pemalu. Berawal dari
sebuah pertemuan yang tak disadari, sampai akhirnya tahun demi tahun mereka
terlihat semakin akrab. Mereka berjanji akan menjaga ukhuwah islamiah ini atas
ridlo Allah. Banyak terpaan dalam hubungan mereka, namun mereka bisa atasi itu.
Sampai pada akhirnya, si akhwat merasa bahwa si ikhwan tak lagi ada bersamanya.
Dia merasa bahwa kini ikhwan telah menjadi sesosok ikhwan yang dikenal banyak
orang. Jelas terlihat seperti itu, sepertinya ikhwan dengan sifatnya yang baik
dan perhatian membuat dirinya begitu mudah dekat dengan orang. Itupun yang
menjadikan si akhwat tidak begitu mempedulikan perubahan sikap si ikhwan
padanya. Namun, hal seperti ini yang dulu bisa diselesaikan dengan cepat
sekarang telah menjadi sebuah hal yang sulit dibahas oleh si akhwat. Si akhwat
tak mampu membicarakan rengganggnya hubungan mereka pada si ikhwan sebab tak
ada lagi waktu mereka bisa bicara. Si akhwat sempat berfikir negative, namun si
ikhwan berhasil meluruskannya kembali. Namun, yang menjadikan perih hatinya si
akhwat adalah si ikhwan mampu mendengarkan keluh kesah orang lain sementara,
tidak untuk si akhwat. Mungkin itu bukanlah keinginan si ikhwan tapi, si akhwat
tak mengetahuinya. Lebih dari satu bulan si akhwat menyimpan semua rasa
sedihnya, cerita gembiranya, tumpukan pertanyaan, tekanan yang sedang ia hadapi
sebab tak ada lagi si ikhwan yang ada tuk mendengarkan ceritanya. Itu tersimpan
rapat didalam hatinya sebab, Si akhwat bukanlah tipe perempuan yang mudah
berbagi cerita dengan orang. Kini, ikhwan si tempat ceritanya, ikhwan yang ia
anggap sebagai kakaknya banyak dibutuhkan orang. Mungkin si ikhwan tak akan
sadar akan hal ini. Karena, si akhwat tak mampu tuk mengatakan bahwa dia
membutuhkannya. Ketika suatu masalah menerpa kehidupan si akhwat, ia hanya
mampu memendamnya sehingga tanpa sadar, ia jatuh sakit dan terpungkur. Suatu
malam, si akhwat diingatkan bahwa satu-satunya tempat mengadu adalah kepada
ALLAH SWT. Ia pun berkeluh kesah pada sang Khalik. Ia seperti tersadar bahwa ia
telah lupa sesungguhnya ia masih mempunyai Allah yang selalu bersama hamba-Nya.
Keesokan harinya, hatinya menjadi lebih baik. Ia seakan tak memiliki rasa
kesal, rasa sedih lagi. Bahkan untuk kali pertamanya, si akhwat ikhlas melihat
si ikhwan mengucapkan kata sayang untuk akhwat lain, dihadapannya. Subhanalloh,
perasaan yang begitu si akhwat syukuri. Karena ia tidak lagi mau mendzolimi
dirinya. Si akhwat sadar, bahwa si ikhwan yang dulu bersamanya kini berada
ditengah banyaknya orang. Dia perlu tetap berdiri disana dengan baik. Si akhwat
tidak akan lagi membuat si ikhwan menjelaskan hal-hal itu. Karena si akhwat
tahu bahwa si ikhwan pun akan lelah jika si akhwat lagi lagi bertingkah
kekanakan. Si akhwat yakin jika Allah meridloi, maka Allah lah yang akan
menjaga ukhuwah tersebut. Ia tak pernah menyangka, sakit yang dulu ia rasakan
kini tlah hilang. Si akhwat tak ingin lagi bersifat egois. Karena bagaimanapun
si ikhwan bukanlah seseorang yang bersamanya. Namun, si akhwat tetap akan
menjaga hubungan yang baik dengan si ikhwan. Andaikan si ikhwan mengetahui
bahwa si akhwat sangat menghormati dan menghargainya dengan semua yang ada
disekelilingnya. Ia tidak berniat melepas hanya ingin ikhlas agar tetap bisa
melihat si ikhwan dan baginya, ia telah menemukan keikhlasan dalam kehidupannya.