Senin, 20 Desember 2010

pertemanan dalam persaingan (?) masih bisa-kah ?

“Ting tong.. ting tong..” dering alarm jam dikamarku tepat menunjukkan jam 5 pagi. Dengan keadaan setengah sadar (arti:lulungu) aku bersiap solat dan sekolah. Jam 5.45 selesai semua kegiatan pagi dan siap di anter sekolah sama si ayah. Beberapa jam hari ini dilewati seperti biasa saat ujian semesteran. Mulai dari persiapan, berangkat, belajar bareng diangkot pagi, sampai pada inti hari ini yaitu ujian semester.

***

“Berapa nilai biologi, mat, sejarah ?” ucap riweuh salah satu temenku. “ga ngerti tuh, belum tau” balasku dingin penasaran. Ga lama, aku langsung ikutan riweuh ngeliat nilai. Udah liat hasilnya *Alhamdulillah (terucap dihati kecil ini)*. SMA ini adalah satu-satunya tempat yang berhasil ngerubah sikap aku yang jadi begitu nggak suka ketika harus bicara tentang nilai tapi sangat bukan berarti aku ga peduli atau merasa udah pinter *OH NO Banget!*. SMA ini tempat belajar banyak gimana caranya ngelewatin sesuatu yang biasanya dibikin pusing sama diri sendiri.

“Rose, gimana nilaimu?” Tanya penasaran Lady(temen sekelas saat ini).

“ lumayan, kamu?” balas penasaran

“aku juga lumayan”

“Alhamdulillah, yaa J

Aku dan Lady cukup dekat dari mulai kita ketemu di sma. Menurutku, Lady adalah cewe yang cerdas(banget), baik, ramah, asik diajak ngobrol, supple dan baik deh pokoknya. Tipe orang yang enjoyable tapi konsisten dan rasanya baru nemu orang kaya Lady. Ngejalanin persahabatan sama Lady bikin warna persahabatan aku nggak gitu-gitu aja yang nggak pernah bisa bener-bener ngerasa dimengerti dan…..

“Rose, dipanggil Bu Olive!” teriak sisil(orang yang aku kenal)

“iyaa, makasih” (dengan langsung menuju Bu Olive)

“Gimana hasil ujianmu, nak?” Tanya Bu Olive guru Inggrisku

“Alhamdulillah, lumayan tapi ya biasa aja ko bu” balasku

“Gimana nilainya Lady ?” lontaran pertanyaan selanjutnya dari bu Olive

“Bagus bu, selalu begitu J. Hebat ya ”

“Beda jauh nggak sama kamu, rose?”

“seperti biasalah, bu”

“semangat nak, dia itu survive di berbagai bidang”

“iya, makasih bu J

Teringat dulu, aku cerita ke bu Olive ketika ibu Tanya aku “siapa dikelasmu yang menonjol progress belajarnya?” dan langsung reflek otomatis aku jawab “Lady tentunya”, aku lihat banget kemampuan dia biarpun dia nggak pernah nunjukkin. Dan dari sejak itu bu Olive mulai sering bicarain Lady.

***

Usai ngobrol sama bu Olive, langsung pulang bareng Lady, Naysa, Fani. Kebetulan hari ini hari terakhir ujian semester. Dirumah, Ayah sama ibu nanya nilai-nilai hasil ujianku seminggu kebelakang dan dengan sejujurnya aku jawab dibumbui kalimatku “Nilai Lady lebih bagus seperti biasanya, How smart she is!”

“Lebih giat ya belajarmu, rose! Dia itu sainganmu” (dengan nada dan maksud memotivasiku) ucap ibu.

***

Hari ini sudah terbebas dari yang namanya SKS. Mulai melakukan kegiatan yang udah kangen untuk dikerjakan seperti online, ngotak-ngatik rumus permainan, menjajahi dunia mimpi dan yang serupanya. Keburukan sikapku setelah ujian di SMA ini adalah nggak terfikir hasil ujianku. Padahal, di inget-inget satu hari ini semua orang sangat peduli sama ini dan itu seputar nilai. There is something weird to me? Tanya-tanya dalam hati yang nggak pernah nemuin jawabannya dari orang lain dan mecoba mengirim rombongan pertanyaan ke hati apakah sekarang aku jadi orang yang cuek?ataukah ini karena gengsi, sombong atau sejenisnya? Apakah mulai ada perasaan “aku udah bisa” dan nggak mungkin nilai jelek? Dan pertanyaan yang butuh (sangat butuh) jawaban dari inti pertanyaan Apakah ini sesuatu yang bagus untuk perkembanganku?. Ya ALLAH, secara nggak sadar fikiran di otakku mulai terpenuhi kebingungan. Mulai kepikiran banyak banget hal-hal yang bikin pusing. TENG ! langsung keinget kata-kata ibu “Dia itu sainganmu” dan jelasnya juga langsung kepikiran Lady. Kenapa ibu bilang gitu ya? Apakah ini sebuah penilaian? Dan setelah diinget-inget, dua bulan kebelakang ini banyak banget tanggapan orang-orang yang meng-iyakan pernyataan si ibu hari ini. Ko, bisa aku nggak pernah bisa ngerasa seperti itu? Bahkan, apapun yang menjadi tugas sekolah selalu kami bagi berdua. Saling bantu antara aku dan Lady. Nggak pernah peduli hasilnya kalaupun harus dia yang lebih baik. Karena apa? Because she is my friend. Nice friend ! dan itu pun yang pernah Lady ucapkan ke aku. Nggak tau mengapa aku seneng nyeritain sesemuanya tentang Lady ke orang contohnya aja Ibu, Bu Olive, Naysa, Fani, dan yang lain. Nyeritain Lady bisa buat aku seneng (so weird). Tahu kenapa? Karena Lady, temen yang paling beda yang aku temuin di perjalanan yang udah enam belas tahun ini. Tapi, balik lagi ke ucapan ibu. Apakah iya orang juga menganggap seperti itu?

***

DRRRTT…DRRRTT (getar handphoneku)

Selamat ya, rose J (isi sms Lady pagi hari minggu)

Apa? (balasku singkat)

Excellent (singkatnya balasan sms)

Oh, iya makasih. You’re excellent too, friend (jawabku)

nggak sama kaya kamu tapi rose, yah L

syukuri,Dy. The most important is there are increasing things this timeJ (balesanku)

Iya, Thanks rose J (balasan terakhir Lady)

Sms ini begitu susah dimengerti, kenapa Lady tulis itu dan merasa sedih ? Apakah Lady merasakan sesuatu yang beda? Apakah sesuatu itu membuat Lady terganggu? Ya Allah, kenapa Lady seperti ini? Aku merasa Lady mulai menjaraki aku disisi persaingan yang orang bilang. Ini adalah hal yang nggak pernah aku ingin ! Apakah Lady berubah ? DRRRTT…DRRRTT (getar handphoneku.. lagi)

Aa tahu nilaimu J selamat ya my sist (sms kakakku Bian)

Dari ibu? Iya :D (balasku)

Yo ! temenmu Lady, gimana ?

Survive J

Mudah-mudahan bisa lebih bagus dari dia ya sist J (ketik-nya di sms)

What’ going on with my handphone? Rusak-kah ? ko is isms dari orang gitu semua ? Demam apa yang muncul setelah ujian ini ?

***

Senin pagi, seperti biasa pergi ke sekolah. “Yes, asyik !” teriak Lady melihat nilai Biologi-nya. “Keren banget Dy nilai kamu! Congrat ya J”, “ Iya, ini usahaku sendiri” balas Lady. Muncullah beberapa kejutan dari tiap guru berisi angka-angka yang nggak pernah aku ngerti kenapa aku selalu penasaran nungguin angka itu keluar dan bertanya ke Lady

“Apakah nilai ujian itu segalanya?”,

“Nggak untukku, iya sih kenapa semua repot ?” (sambil menyantap mie bersamaku)

Anehnya, kenapa aku harus bilang gitu ke Lady ? Astaghfirullah, ini sebuah perasaan bangga sama diriku. Ya Allah, ini salah. Sesuatu yang Lady juga nggak repotkan tapi ada siratan perasaan ketika melihat hasil ujian yang begitu WAW kalo dia itu sangat seneng!!

“Rose!” panggil bu Olive

“iya,bu. Ada apa?” jawabku

“lihat nilaimu”

“Alhamdulillah (sambil menatap sebuah kertas dan secara reflek ibu jari ini menunjuk sebuah nama diatasku), bagus ya bu nilainya?”

“iya, ko kalah dengannya?”

“dia selalu bagus, bu”

“kamu juga ko, nak. Biarpun dia unggul tapi, kamu juga survive”

“mudah-mudahan ya bu”

***

Dua hari berlalu dengan celotehan, aduan, omongan, opini orang-orang tentang hasil ujian. Sementara aku, entahlah nggak jelas. VERY DISLIKE THIS SITUATION ! kenapa sih, ngebahas lagi dan lagi hasil ujian. Toh, itu semua udah kita tahu waktu ngerjain dan kita juga bisa menduga. Terus apalagi ? Pertanyaan paling nggak berguna yang aku punya. Seperti halnya yang lain. Lady mulai terus dan terus nanya dan ngomongin nilai. Ko bisa? Kemana kalimat yang pernah dia bilang ? Kemana perginya temen sepikiranku itu? Aku kaget banget waktu Lady mencoba merubah nilainya yang padahal udah bagus, menyesali kenapa hanya segitu? . Ingin banget aku bilang Kenapa nggak mencoba syukuri dan lewati apa yang udah kita usahain, mungkin itu lebih baik. Tapi, sayangnya aku nggak pernah berani bilang itu. Satu opini dan saran untuk Lady adalah harus banyak lihat sikap cowo-cowo deh (bukan berarti ngeceng). Banyak hal yang aku dapet dari kaum adam itu. Mereka bisa ko cuek-cuek nanggapi hal yang terjadi dan nggak ada terusannya lagi. Apa sih yang kurang sama Lady? Nilainya aja selalu ok banget dan waw dan banyak yang akui itu.

Hal yang mulai aku pikirin adalah Lady mulai terhasut orang untuk mulai suka membandingkan nilainya. Aku tahu, hasil ujian itu bisa buat perasaan bangga. Tapi, apa harus kita ungkit ? Apa nggak bisa hanya kita yang tahu? Kenapa orang-orang dikelas dan disekelilingku mulai suka membandingkan aku dan Lady. Mulailah juga semua orang dan sekelilingku ngomongin keunggulan Lady, Lady dan Lady. Sampai ada satu hal yang mau aku bilang di mikrofon, mau aku teriakin ke orang-orang, “ AKU TAKUT !! AKU TAKUT !!” (seriusannya juga aku bener-bener takut! Pertama, ketika aku unggul darinya aku merasa bangga. Astaghfirullah, sebuah pengkhianatan kekuasaan karena seharusnya manusia tau bahwa sesuatu kelebihannya bukanlah untuk dibicarakan. Kedua, aku nggak ingin ada rasa dia adalah sainganku. Karena semakin sering orang banggain dia didepan aku akan membuat aku terobsesi mengalahkan dia. Sebenarnya itu bagus sebagai motivasi tapi entah kenapa aku sama sekali nggak suka dengan itu. Ketiga, Karena dia adalah TEMANku! SO? Banyak orang bilang: Kenapa persaingan dengan teman? Itu kan bagus. Buat aku, FINE aja. Bisa aja tapi, apa pertemanannya masih consist ? berdasar pengalaman, consist-nya hanya sebatas saling kenal aja dan pertemanannya entah kemana. Dari dulu hal yang paling nggak mau aku lakuin adalah menghilangkan satu aja temen, nggak peduli orang nggak liat aku karena si temenku lebih hebat atau apalah serupanya. Jujur, sekarang ini baru Lady yang bisa buat aku kaya gini. Cemburu (banget)!. Dari dulu aku terbiasa dengan sikap nerima aja. Aku sangat mengakui banyak hal lebih padanya tapi, sesuatu yang datangnya berlebihan mulai terasa nggak nyaman untukku. Mulai ibuku yang suka ngomongin dia, banggain dia. Itu buat aku cemburu. Tapi, disisi lain ini ulahku sendiri kok. Toh, aku yang awalnya cerita semuamuanya tentang dia dan aku seneng ngelakuinnya. Dengan niatan awalku adalah ingin bisa nikmatin hari-hari disekolah dengan orang yang srek dan cocok sama sikapku, ingin orang tau kalau dia itu temanku. Kalau ibuku tau, orang-orang tau mungkin satu hal yang sama yang akan dilakukan adalah membenci sikapku ini). Jadi, Apa yang harus aku lakuin ?

***

Akhirnya kisah ini nggak pernah bisa aku selesaikan. In reality, I hope Rose will find mean who’s and what for the rival ? What must she does when she feel very jealous with her friend ? Whether there is something weird with that feel ?

18 desember 2010

ordinary
rinintaaviantari

Kamis, 16 Desember 2010

Foto otw Mekarsari-nya Ipadua

Nasi Padang' crew

Preparing foto-nya ipadua (kobe-kah?)

Foto-Foto XI IPA 2 SMANSA waktu perhentian menuju ke Mekarsari, Bogor.
Nice Picts

(catatan: diambil dari camdig-nya milik gladyis intan #sumber)

L O V E U M O M

L O V E U M O M
Aku, papa, ade sangat sayang mama